Beberapa tahun menyandang predikat ‘pegawai swasta’, di antaranya banyaknya orang
yang saling menyikut-mencari muka demi sebuah jabatan, sempat terbersit dalam
pikiran “jika saja kita bekerja tanpa
peduli berapa banyak uang yang akan dihasilkan atau setinggi apa jabatan yang
bisa diraih, mungkin bekerja itu akan lebih membahagiakan-menyenangkan-dan
menenangkan”
Tanpa gosip membandingkan gaji antara rekan kerja yang satu
dengan yang lain
Tanpa rasa iri, tanpa rasa cemas, mengapa gaji dia lebih
besar?
Tanpa dag dig dug menanti pagi hari saat tanggal gajian,
ambil HP, transaksi info saldo via Mobile Banking, walau mata belum sepenuhnya ‘melek’
Ada satu teman di
kantor baru saya, ketika saya tanya “kok mau kerja disini?” jawabannya simple, “untuk
bayar utang” kebetulan 4 kartu kreditnya dibobol teman dekatnya sampe benar2
jebol dan sudah kabur duluan, sungguh apes,,
Ada lagi teman lainnya yang berangkat pulang kantor tanpa
perlu bingung panas maupun hujan, mobil sudah disiapkan oleh orang tuanya, enak
nian,,
Sempat juga saya bertanya pada diri sendiri, jika mereka
para orang kaya tetap bekerja sebagai pegawai swasta, walaupun tanpa kerjapun
mereka sudah ‘urip’, Pasti gajinya untuk sekedar uang jajan-uang bensin, ahhh
senangnya, tidak usah bingung membagi uang gaji untuk uang kos-uang makan-uang
transpot-uang pulsa-uang untuk orang
tua-uang untuk tagihan kartu kredit, Handphone-Gadget nya saja sudah
lebih dari dua...
Jika memang karena uang, lalu mengapa para pengajar sekolah
dasar di pedalaman yang sudah 10 tahun mengajar pun masih dianggap sebagai
pegawai honorer, tidak pernah diangkap sebagai pegawai negeri, toh ya mereka
senang bahagian dan ayem
Tapi jika bukan uang yang dicari, lalu apa? Beritahu saya
jika Anda sudah tahu jawabannya...
Bukannya mata duitan tapi hidup memang perlu uang, bahkan
untuk sekedar parkir dan buang air di tempat umum, pasti butuh uang,,,

0 comments:
Post a Comment