5.05.2013

mau berBAKTI hanya dengan kata MAAF?

Ada orang yang doyannya tanya “kamu kerja dimana sih? Emang dapet gaji berapa sih?

Ada orang yang doyannya ‘ngerasani’ orang itu “kok mau ya dia kerja di situ yang gajinya cuma segitu?”

Ada orang yang doyannya tanya “HP mu apa? Uda jalan ke luar negeri mana aja? Uda beli apa aja nih?

Ada orang yang doyannya jalan2 ke luar negeri, beli ini itu, beli gadget baru, beli handphone baru, beli baju baru, beli mobil baru

It’s ok, belinya juga pake uang sendiri kan? Gak pake uang orang laen? Sukur2 juga gak pake uangnya pacar kan?

Semakin saya menjajaki pekerjaan bernama pegawai swasta, dan dengan bertambahnya usia kedua orang tua saya, maka sempat beberapa kali pemikiran ini muncul, beberapa kali itulah saya pahami hingga menjadi sebuah cita2..

Apa hubungannya dengan orang tua?

Ya benar, tempat Anda bekerja saat ini, gaji yang Anda terima saat ini, bahkan segala pencapaian yang telah Anda terima hingga saat ini tidak jauh dari restu dan upaya kedua orang tua Anda.

Kerja enak, gaji mantab didapat dari selembar ijazah, ijazah yang Anda raih setelah beberapa tahun studi, studi yang memakan biaya, biaya yang begitu sangat diusahakan oleh kedua orang tua Anda.

Hidup enak, makan nikmat, tidur nyenyak juga tak jauh dari upaya kedua orang tua Anda, bahkan upayanya lebih dari berjuta juta hingga bermiliyar miliyar uang, yaitu doa.

Jika Anda setelah lulus, dapet kerja mantab, karir oke, pacar juga asoi, lalu Anda memutuskan untuk segera menikah, lalu kapan BAKTI Anda pada orang tua?

“ya nanti lah tunggu Saya dapat uang banyak”

“ya nanti lah tunggu bapak ibu saya udah gak kerja lagi”

“ya nanti lah tunggu mereka uda tua ajah”

berBAKTI bukan berarti pake uang, yang bisa saja hilang begitu Anda telah menutup mata untuk selama lamanya

berBAKTI bukan berarti menunggu orang tua tidak berpenghasilan lagi, sedangkan saat itu pasti Anda sudah berkeluarga dan memiliki kebutuhan serta pengeluaran sendiri, bisa jadi Anda sudah tidak bekerja lagi saat itu kan?

beBAKTI bukan berarti menunggu ‘waktunya’ orang tua, yang kita sama sama tidak tahu sampai kapan hidup di dunia ini.

Jika terlambat, semua tinggal menyesal, tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan selain minta maaf.

Masa berBAKTI cuma modal minta maaf saja?

Cobalah dari hal kecil, semisal membantu mama membuang sampah tanpa mengomel sampah yang baunya nauzubilah, membantu papa membuatkan kopi tanpa mengoceh karena kopi yang kurang manis-kurang susu-ato kurang krimer.

Jika sudah dilakukan, cobalah hal lainnya yang lebih berbentuk, semisal, mama pengen beli hair dryer, ya belikanlah, beli hair dryer saja kan tidak mungkin membuat  jatah belanja kita sampe bangkrut kan? Misal lain lagi, papa pengen beli motor baru karena motornya rusak, ya belikanlah, tidak punya uang? Cicilan kan bisa toh? Masa cicilan gadget sampe 700rb per bulan ajah bisa,  kok cicil motor 500rb’an ga mampu? 

Jika berhasil, cobalah hal yang lebih besar lagi, semisal, ajaklah kedua orang tua Anda untuk bisa jalan jalan keluar negeri atau travelling domestik, tidak usah jauh jauh, tidak usah pake uang sampe beratus ribu dolar. Alangkah bahagianya jika bisa membahagiakan orang tua kan? Bantulah mereka melihat betapa indahnya pantai kuta, indahnya patung singa yang mulutnya keluar air, murahnya belanja di Thailand.

Jika berhasil lagi, cobalah menabung, iya menabung, buatlah apa yang Anda cita2kan itu terkabul tanpa menggunakan uang orang tua, tanpa menyusahkan keduanya. Modal nikah, modal DP rumah, modal DP mobil. Sumpah pasti rasanya lebih seneng lhoh kalo semua bisa kita raih pake keringet-jerih payah-usaha-dan uang sendiri.


Kita puas, orang tua senang, Tuhan juga bahagia punya anak anak membanggakan seperti Anda!

Intinya bahagiakanlah Orang Tua Anda, selagi Anda masih punya cukup uang, masih punya cukup usia, dan masih punya cukup akal!

Bolehlah kalian menganggap saya Ngesok, sombong, tapi coba terapkan yang saya katakan tadi, Anda akan dapat suatu yang 'lebih' dari sekedar berkah Tuhan.

5.04.2013

"membantu" jadi lebih mahal dari harga sekilo emas batangan

Beberapa hari lalu saya sempat berbincang sedikit bersama pasangannya saya mengenai betapa hebohnya para pengikut ustad uje yang rela berbondong bondong mengantar hingga sampai di tempat peristirahatan terakhir.

“saking baiknya itu orang” komentar dia.

Saya sadar sepenuhnya bahwa salah satu esensi kehidupan adalah bagaimana menjadi orang baik, orang ikhlas yang mau membantu orang lain tanpa meminta balasan.

Tapi karena semua hal telah diukur dengan materi, uang, duit, harta, maka hilang sudah rasa ikhlas itu, dan semakin sedikitlah orang baik di dunia ini. Semua berubah egois.

Contoh kecil, ketika naik sebuah angkutan umum, bus, semua penumpang duduk, dan ada penumpang baru datang dengan perut besarnya yang tampak berat, ibu hamil, hampir semua orang tidak mau berdiri untuk menawarkan dia duduk, semua beranggapan siapa cepat datang ya dia yang dapat duduk, toh bayarnya sama.

Contoh lain lagi, ada orang yang punya kendaraan roda empat, kemudian ada orang yang hanya memiliki sepeda motor, satu satunya kendaraan yang ia miliki, saat kepepet, si empunya mobil memang meminjamkannya  mobil, tapi malah jadi bahan omongan hingga beberapa minggu berikutnya, penyebabnya hanya karna meminjam.

Ada lagi, ketika dalam suatu lingkungan ada seseorang yang telah dipandang mampu dalam hal materi, maka beberapa orang di lingkungan tersebut meminta tolong, mungkin, siapa tahu bisa juga kecipratan materi yang ia punya. Anggap saja saya pemilik toko kelontong yang selalu laris, rejeki selalu lancar, kemudian datang si A ingin menitipkan jajan kue keringnya untuk dijualkan di toko itu. Saya menolak, saya merasa toko saya tidak pantas menjual kue kering murahan semacam itu.

Beberapa hari lalu saya menyelesaikan buku berjudul RANAH 3 WARNA, buku lanjutan dari NEGERI 5 MENARA, awalnya saya males baca karna berbau keagamaan, tapi saya malah bertambah banyak ilmu dari kedua buku ini.
  
       MAN JADDA WAJADA “siapa yang bersungguh sungguh akan berhasil”
 
       MAN SHABARA ZHAFIRA “siapa yang bersabar akan beruntung”

Alif Fikri, tokoh utama dalam cerita ini juga mengajarkan bahwa dari setiap rejeki dan rizki yang kita dapatkan juga merupakan rezeki bagi orang lain, maka janganlah pernah untuk tidak mau berbagi, bagi kita mungkin kecil, bagi mereka itu lebih dari berharga.

Begitupun mengenai membantu, berbagilah dengan orang orang yang membutuhkan bantuanmu.

Tidak mau membantu? Tidak apa apa, saya anggap saja kalian sedang khilaf, lupa, bahwa semua yang  Anda miliki hanyalah titipan semata.

4.20.2013

ibarat salah jalan, masuk got

Satu lagi jahatnya dunia kerja yagn perlu saya share,

Posting ini tidak berlaku hanya pada satu bagian, satu bidang usaha, atau satu perusahaan saja, tapi berlaku di semua golongan dan kasta di semua perusahaan apapun bidangnya, bahkan tidak menutup kemungkinan hal ini terjadi juga pada bidang pemerintahan.
Bahwa naik tidaknya gajimu,

Bahwa diangkat atau tidaknya kamu sebagai pegawai tetap,

Bahwa dipromosikan atau tidaknya jabatan kamu,

Bukan disebabkan oleh bagus tidaknya performa kerjaan kamu atau loyal tidaknya kamu pada suatu perusahaan, kalaupun iya itu hanya itu hanya sekitar 20% dari faktor keseluruhan.
Lalu apa yang menentukan?

Yakni “suka atau tidaknya atasan terhadap kamu sebagai bawahannya”

Terbukti jika dari awalnya gak suka, sebagus apapun hasil kerjamu ya tetap saja tidak dianggap

Mau jungkir balik? Lembur sampe tengah malam? Atau mentraktir si atasan setiap kali makan siang?

Mohon maaf saja, si atasan tetap saja tidak respect ke kamu

Bahkan dia tidak akan segan2 mencari cara untuk membuatmu “enyah” dari lingkungan sekitarnya.

Hal ini baru saya sadari ketika hal itu terjadi pada diri saya,

Bergabung pada sebuah bank swasta nasional yang awalnya saya anggap oke, 3 bulan masa probation saya usai dan dinyatakan tidak dapat dilanjutkan dengan alasan bla bla bla...

Dari awal bergabung saya berusaha mengelak dari tingkah beberapa orang yang tidak menyukai bangsa kulit putih, maaf jika posting ini berbau SARA

Pernah suatu waktu, ketika dia ngobrol dengan salah satu kawannya, “ya soale deE itu cino”
Alangkah lebih baiknya jika kata itu diganti dengan ‘chinese’

Sikapnya juga kurang saya suka, ketika kamu menjadi ‘anak baru’ yang menerima hal baru yang tidak kamu ketahui/ pelajari sebelumnya, dan ketika kamu tanya pada dia notabene sebagai atasan, dia menjawab sekedarnya dan memberikan kesan “kamu itu kok cek goblokE seh?”

Pantaskah dia menyandang predikat  atasan? (ya monggo dijawab sendiri)

Inti dari posting ini adalah
“pilihlah lingkungan kerja yang mendukung dan fair, salah sedikit bisa masuk got yang kotor dan bau”

4.05.2013

Tidak ada yang sempurna, termasuk kita kan?

Saya tiba2 ingin menulis soal hal satu ini, cukup umum karena semua orang pasti tahu atau paling tidak pernah mendengarnya


“tidak ada yang sempurna di dunia ini, walaupun itu kita, ciptaan Tuhan yang paling sempurna”

Andai semua orang dapat memahami isinya

Saya tidak mau menghakimi si A, si B, atau si C, karena saya juga sama seperti Anda

Posting ini Cuma ingin mengingatkan saja bahwa jadi manusia janganlah sombong,

Ada yang menjelekkan temannya “pake j*lb*b tapi mulutnya ga pernah dijaga” padahal dia yang berkata itu juga mengenakan j*lb*b (maaf jika tersinggung)

Ada yang menganggap dirinya paling tahu, paling pintar sehingga menghina teman lainnya dengan kasar “dasar goblok kamu!”

Ada yang bangga karena dirinya cantik-ganteng-bodi bagus sehingga menghina teman  lainnya dengan kasar  “udah jelek idup lagi”

Ada yang bilang “pelit”

Ada yang bilang “ngeSOK’

Ada yang bilang “gendut”

Ada yang bilang “kalo dia itu mbencekno”

Ada pula salah seorang yang sebelumnya saya anggap teman di kantor baru ini, ternyata semua hal yang saya ceritakan padanya itu disampaikan pada atasan dengan memutar fakta yang ada, hasilnya saya dipecat, mungkin dia merasa puas.

ya dia memang salah, mungkin juga saya ada salah padanya, 
kita berdua hanyalah manusia yang tidak luput dari kesalahan...
 
Ya mari kembalikan semua kata2 itu ke diri masing2, sudah tahu kan kalo tidak ada yang sempurna? maka janganlah saling menghakimi sesama mu sendiri...

3.29.2013

TABUNGAN TANPA ISI UANG

Pagi sampai siang tadi saya hadir dalam sebuah seminar motivasi, bukan karena niat mendaftar jadi peserta tapi karena amanat dari kantor, jika tidak hadir harus membayar sejumlah uang denda

 

Seminar motivasi berjudl “serve with heart” dipimpin oleh seorang bapak paruh baya berbaju batik coklat, namanya Jamil Azzaini,

Beliau bercerita mengapa namanya jamil yang dalam bahasa arab ternyata berarti cantik dan indah, padahal notabene’nya dia seorang laki. Karena kedua orangtuanya menginginkan anak cewek maka disiapkan nya nama perempuan, ehh ternyata lahirnya lelaki maka disisipi oleh Azzaini sebagai nama belakangnya.

Saya tidak terlalu mengenal dia yang katanya seorang motivator itu, tapi apalah peduli saya, pokoknya saya hadir. Ternyata saya bisa dapat banyak ilmu dari bapak 3 orang anak itu.

Para peserta diajarkan mengenai HUKUM KEKEKALAN ENERGI.

HUKUM KEKEKALAN ENERGI di dapat dari jumlah usaha.

Jika sekarang kita kerja “soroh” (susah), semua pekerjaan sudah dihasilkan semaksimal mungkin tapi kok ya gajinya segitu gitu ajah? Kok ga naek2?

Jumlah usaha banyak tapi hasilnya kemana?

HASIL USAHA menghasilkan hasil yang terlihat dan hasil tidak terlihat

Hasil yang tidak terlihat disebut sebagai TABUNGAN ENERGI POSITIF (EPOS)

Sama seperti tabungan yang ada di bank, tidak mungkin jika kita datang ke bank lalu mau narik uang tanpa punya tabungan di bank tersebut,

Jika ingin memperoleh hasilnya, mana mungkin bisa didapat tanpa melakukan sebuah ataupun beberapa usaha terlebih dahulu

Dari mana TABUNGAN ENERGI POSITIF didapat? Yakni dari setiap perbuatan-perkataan yang kita lakukan sehari hari, dan untuk menjadikannya positif jelas kita juga harus berbuat positif.

Jika dalam sehari paling tidak melakukan 1x saja perbuatan positif maka dalam setahun kita sudah mendapat 365 tabungan positif, bedanya tabungan ini tidak memiliki kartu ATM untuk bisa diambil isinya sewaktu waktu, lalu kapan dapat hasil tabungan plus bunganya?

Saya tidak tahu, Anda tidak tahu, Kita semua tidak tahu, tapi percayalah bahwa Tuhan punya catatannya, tidak mungkin tertukar dengan orang lain, hanya saja mungkin kita belum saatnya...