6.04.2013

Anak Istimewa

Bersyukurlah saya walau baru 2 minggu sudah diberi teman baru di divisi baru yang juga baru saja saya tempati ini.
Namanya okky, cewek, kelahiran tahun 1994, selisih usia 6 tahun dengan saya, bukan karena iseng ngitung selisih usia yang ada, tapi kebetulan pas sekali dengan tahun lahir adik saya.
Pernah sekali saya diajak oleh HRD untuk ikut interview okky, dan ada sesuatu yang membuat saya dan pak HRD ini merasa bahwa okky adalah ‘anak istimewa’.
Diusianya yang masih kecil menurut saya, dia sudah mengalami beberapa hal yang berat dalam hidupnya.
Sebelumnya saya mohon maaf, jika yang bersangkutan membaca posting ini, saya hanya ingin share kepada yang lain bahwa Tuhan menciptakan kamu itu benar benar berbeda, istimewa, ibaratnya nasi goreng kamu itu istimewanya pake telor goreng plus porsi gede...hehehheheheee...
Ayahnya perawakan chinese, Ibunya orang indonesia asli. Ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan seseorang, tanpa memberitahunya. Okky merasa kecewa, merasa dikhianati ayahnya.
Setelah beberapa lama tinggal di sulawesi. Mereka sekeluarga (okky-ayah-ibu baru) pindah ke surabaya. Karena merasa tidak betah tinggal dengan tante (okky menyebut mama barunya), okky meninggalkan rumahnya. Tanpa memberitahu siapapun, lalu tinggal di sebuah kamar kos.
Setelah lulus SMA, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan produksi bedak pada bagian stok. Okky merasa bahwa perusahaan tersebut terlalu mencampuri urusan pribadinya.
Sempat menganggur beberapa lama, dan ia pun bergabung di perusahaan ini. Perusahaan keluarga memproduksi dan memperjual belikan baut mur, komponen kecil yang pasti ada pada semua benda. (bayangkan tidak ada hal yang lepas dari baut mur, termasuk jam tangan yang anda pakai).
Hari pertama, hari kedua, okky tidak bersama saya, ia harus langsung mengikuti ‘on the job training’, menurut info yang saya dengar dari teman teman berpakaian putih item, bahwa okky tidak makan siang, tidak istirahat, tidak minum, bahkan menolak semua tawaran makanan yang ada di meja, dari permen, gorengan, roti, jajan dan kawan kawannya.
Kalo ditanya jawabnya cuma satu kata, “males”
Atau jawaban paling panjangnya, “gak papa, lagi ga pengen aja”
Nahhh loooo, anak orang ini, ga maem ga minum, lha kalo jatuh? Yang angkat sapa? Bilang apa ke keluarganya? Ntar dikira anaknya telah diperbudak di kantor barunya, seperti kasus pabrik kuali baru baru ini di televisi.
Hari ketiga, saya ajak membantu tugas saya mempersiapkan event bulan promo di bagian sales counter. Pertama saya tawari “makan siangnya mau di sini atau di luar?” (kebetulan di kantor di provide makan dalam)
“terserah cece wes”
“aku pengen maem penyetan, ikut tah?” (bahasa untuk tempe penyet sambel, dkk)
“enggak wes” jawabnya sambil geleng geleng kepala
Karena tahu dia gak ikut makan, ya sudah saya ambil catering makan dalam saja, sekalian ngirit juga.
Di sela sela makan siang, pelan pelan saya tanya kenapa kok tidak makan tidak minum tidak jajan selama dua hari kemarin.
“ya gak papa, eman duite ae” (ya tidak apa apa, sayang uangnya saja)
Dalam hati, mungkin karena tidak berpenghasilan selama beberapa lama karena resign dari kantor lama, okky harus menghemat, jika tidak siapa lagi yang bisa ia andalkan? Tidak mungkin harus minta kencan dengan sang pacar hanya untuk dapat makan gratis.
Hari keempat, saya bulatkan tekad makan siang di luar, dan ternyata benar, okky memilih tidak ikut, lalu ia tanya “dapet makan gratis kok cece malah makan di luar?”
Jadi malu jawabnya, ya memang benar, ada yang gratis lalu kenapa lebih memilih membuang uang, hanya untuk makan, yang toh tidak berbentuk apa apa kan? Malah terbuang sia sia di septic tank.
Badannya okky memang tergolong kurus, tapi saya senangnya ia tak keberatan untuk melakukan semua hal yang berbau hal berat, angkat angkat misalnya.
Okky bukan tipe cewek menye menye yang takut kukunya rusak, takut kulitnya kering karena sabun cuci piringnya, takut naek angkutan umum.
Okky cewek pemberani. Ia hebat karena berhasil melewati semua hal berat di usianya yang belum genap 20 tahun. Bayangkan hidup sendiri tanpa dukungan orang tua? Tanpa omelan seorang ibu? Tanpa nasehat seorang ayah?
Dari okky saya belajar, jadi hebat itu adalah dengan menghadapinya, bertarung, dan melanjutkan hidup. Dan menjadi hebat itu istimewa.

0 comments:

Post a Comment