6.11.2013

Anda-Saya Mental Pengemis...


Pasti sering liat pengemis kan?


ya, pengemis...inilah fenomena lawas yang hadir di tengah kehidupan perkotaan.

disetiap sudut kota, di tengah jam sibuk orang cari duit, mereka hadir mencari beberapa logam rupiah untuk makan, di tengah bisingya lalu lintas, di bawah teriknya matahari.


di stop-an lampu merah, di tengah kerumunan jalanan pasar yang becek, duduk di sudut trotoar para pejalan kaki, di atas laju kencangnya kereta api, ada juga yang menyisipkan bayi dalam gendongan mereka

semuanya penuh pengemis, mereka menyodorkan kaleng, memasang wajah memelas, sambil ngomong "nyuwun, mbak", malah adapula yang memanfaatkan kekurangan fisik mereka untuk cari uang, atau lebih tepatnya rela menampilkan seolah bak orang cacat fisik.


walah...walah...gak tau apa nyari duit susah? lha yang ini kok tinggal minta? gak ikut nyari kok minta jatah?
enak aja!

mau gak dikasih kok ya kasihan, tapi kalo dikasih entar dikira ikut mengasah mental pengemis mereka supaya makin tajam dan berbakat meminta

trus gimana caranya memberantas profesi yang satu ini?
katanya UUD45, orang orang terlantar dipelihara oleh negara...
kita rakyat Indonesia juga sudah rajin bayar pajak buat ikut memelihara mereka...
tapi kita kok ya masih dimintai 'pajak tambahan' untuk mereka

jangan protes dulu soal omongan mental pengemis, sebenernya diri kitapun tak jauh berbeda dari mereka, sama sama punya MENTAL PENGEMIS.


kita puya sikap lebih suka menerima daripada memberi


cukup menengadahkan tangan, berwajah memelas, tampil kumuh tanpa polesan make up, baju seadanya, dan tampil sejelek mungkin maka akan LAKU...

jawaban ya ato tidak kembali pada diri Anda sendiri
jika tidakpun, tak usah emosi, toh tulisan ini hanya ungkapan hati yang dituang di atas selembar kertas kemudian di copy-paste ke dalam layar komputer...







0 comments:

Post a Comment